5 Aturan yang Boleh Dilanggar untuk Dapatkan Pernikahan Bahagia

0 comments





Penelitian yang dilakukan terhadap wanita dengan kehidupan pernikahan langgeng membuktikan, mereka yang bahagia justru karena berani melanggar aturan. Ahli-ahli dalam masalah rumah tangga juga setuju bahwa mengabaikan aturan-aturan adalah kunci untuk membangun hubungan yang awet.

Sebenarnya cara untuk membuat suatu hubungan dapat bertahan adalah dengan membuat aturan Anda sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh penulis buku Making Marriage Work for Dummies, psikiater Steve Simring dan istrinya Sue Klavans Simring, tidak perlu Anda melihat dari pepatah-pepatah lama seperti "jangan pernah pergi tidur dengan rasa marah" dan lainnya.

Berikut adalah beberapa aturan yang bisa Anda langgar untuk menciptakan pernikahan bahagia Anda sendiri, seperti yang dikutip dari Red Book:

Aturan 1: Jangan pernah pergi tidur dengan kondisi marah

Bisa dibilang ini adalah kutipan bijak tertua dalam 'pernikahan bahagia'. Selama ini konflik hanya dilihat sebagai sesuatu yang membuat pasangan tidak nyaman dan kebanyakan pasangan akan berusaha menghindari konflik.

"Ada gagasan bahwa sebenarnya konflik adalah tanda-tanda munculnya masalah dalam pernikahan," ujar Steve Simring. "Sehingga keadaan tersebut hanya akan memaksakan resolusi secepat mungkin untuk kembali pada area bebas konflik, namun sebenarnya hal tersebut justru tidak relevan"," tambahnya.

Menyuruh seseorang untuk tidak merasa marah, sama halnya dengan memberitahu orang untuk tidak kelaparan, begitu menurut Seana McGee, salah satu penulis "Why the Old Rules Don't Work and What Does"."Kemarahan adalah respon psikologis dan kimia seseorang, Anda tidak dapat mematikannya seperti tombol. Dan jika kemarahan terus berlangsung dan sudah waktunya untuk tidur, maka tidak masalah untuk tidur dengan keadaan tersebut," tambahnya.

Aturan 2: Beritahu pasangan apa yang Anda inginkan di tempat tidur

Poin kedua di atas sering sekali disarankan untuk memiliki kehidupan suami istri yang lebih baik. Memang saling mengkomunikasikan perasaan penting, tapi selalu mengungkapkan apa yang Anda inginkan setiap kali akan bercinta, mungkin bukan ide yang baik untuk hubungan dalam jangka panjang.

"Asumsi yang ada, pasangan bahagia itu selalu menunjukkan dan memberitahu semuanya," kata Sue Simring. "Namun, tidak selalu tiap Anda bercinta harus memberitahukan bagaimana Anda ingin disentuh dan tidak selalu semua aktivitas bercinta jadi luas biasa. Dalam kehidupan nyata, ada saat ketika salah satu pasangan membutuhkan kebebasan untuk santai dan berekspresi," urainya lagi.

Terapis secs Dr Ruth Westheimer atau yang lebih dikenal sebagai Dr Ruth juga mengakui bahwa ada situasi dimana yang terbaik adalah tidak untuk memberitahu pasangan Anda apa yang Anda benar-benar ingin. Situasi itu berlaku terutama jika Anda tahu bahwa permintaan Anda akan mengakibatkan lebih banyak masalah daripada kesenangan. Ingatlah, komunikasi dapat menjadi pedang bermata dua, terutama bila ada masalah yang belum terselesaikan dalam pernikahan.

Aturan 3: Berbicara pada orangtua masing-masing

Orang selama ini berpikir hanya merekalah yang bisa memahami orangtua mereka. Jadi ketika misalnya ibu atau ayah Anda membuat masalah yang mengganggu pernikahan, Anda lah orang yang paling bisa mengerti dan berhadapan dengan mereka. Benarkah demikian? Jika dipikirkan baik-baik, bisa jadi akan lebih baik kalau Anda dan pasangan sama-sama berbicara dengan orangtua, bukan sendiri-sendiri.

Menurut penylis buku 'Will Our Love Last', Sam R. Hamburg Ph.D, ketika berhubungan dengan mertua, yang lebih penting adalah bagaimana cara menghadapinya bukan siapa yang menghadapinya. "Selama Anda berdua setuju, misalnya dalam hal berapa banyak waktu yang akan dihabiskan untuk orangtua masing-masing, siapa yang memberi tahu bahwa kalian tidak akan datang untuk makan malam setiap Minggu tidaklah berasa penting," ujar kata Hamburg.

"Faktanya, lebih mudah bagi para menantu untuk berbicara dengan mertua karena ketika orangtua berbicara kepada anak mereka sendiri, ada kecenderungan untuk memperlakukan anak tersebut seperti belum dewasa. Tapi ketika pembicaraan yang sama dilakukan oleh kedua orang yang baru bertemu ketika mereka sudah dewasa (seperti Anda dengan mertua), mereka bisa berhubungan lebih baik dan sederajat," jelas Hamburg lagi.

Aturan 4: Anda Tidak Bisa Mengubah Orang Lain

Tentu saja Anda tidak seharusnya memaksa pasanganuntuk menjadi seseorang yang bukan dirinya. Di sisi lain, hubungan yang baik justru yang bisa mengubah pasangan, membantu mereka mempelajari dan berkembang dan berani mencoba sesuatu yang selama ini mereka tidak pernah mencobanya.

"Aturan lama menyatakan jangan pernah mengubah pasangan Anda, dan jangan mengganggu ketenangan. Namun justru dalam suatu hubungan di mana satu atau lainnya sama-sama selalu terdiam atas ketidakpuasan terhadap masing-masing, dalam banyak kasus pasangannya akan meninggalkannya tanpa tahu alasannya," urai Steve Simring.

Steve juga mengatakan, jika memang Anda peduli pada hubungan pernikahan tersebut, tentunya ada hal-hal yang perlu diubah dari pasangan ketika memang menganggu atau bisa menghancurkan bahtera rumah tangga. Untuk melakukan ini dibutuhkan keberanian memang.

Aturan 5: Pasangan bahagia selalu liburan bersama

Tak sedikit orang yang berpikir ketika Anda dan pasangan melakukan liburan sendiri-sendiri, dianggap pernikahan Anda bermasalah. "Jika Anda menggunakan liburan secara bersama sebagai barometer kebahagiaan, tentunya menghabiskan waktu secara terpisah hanya akan menimbulkan pengertian yang negatif," ujar Smiring.

Pertimbangkan fakta bahwa memberikan kebebasan satu sama lain untuk membuat pilihan sendiri, menunjukkan Anda mendukung dalam mengekspresikan diri masing-masing. Kebebasan mengekspresikan diri ini pun sebenarnya kunci pernikahan bahagia, seperti yang dikatakan penulis buku 'The Secret Lives of Wives: Women Share What It Really Takes To Stay Married' Iris Krasnow.




Topik Sama

0 comments:

Post a Comment

 
Weddingmu.com - Tips Pernikahan © 2011-2016 InnOnet. All Rights Reserved.