Pernikahan Putera Presiden Indonesia VS Pernikahan Putera Presiden Iran

0 comments



Pernikahan Putera Presiden Indonesia VS Pernikahan Putera Presiden Iran

Pernikahan Putera Presiden Indonesia VS Pernikahan Putera Presiden Iran

Tergelitik untuk menulis, ketika saya membaca berita dari Liputan6.com yang memberitakan tentang pernikahan putera kedua presiden kita, Edhie Baskoro Yudhoyono dengan Siti Rubi Aliya Rajasa yang digelar di Istana Cipanas, Cianjur jawa Barat. Dihadiri oleh sekitar 1000 undangan, tentunya masyarakat biasa yang tinggal di sekitar istana tidak diundang. Tetapi mereka bisa menyaksikan acara pernikahan tersebut lewat sebuah layar besar di halaman di depan Istana Cipanas. Hotel dan tempat penginapan di sekitar Puncak pun jauh hauh hari sudah habis dibooking.

Pernikahan langka

Sudah menjadi tradisi atau kebiasaan masyarakat Indonesia, mengadakan resepsi pernikahan pada hari hari libur, berbeda dengan pernikahan putera kedua SBY ini, diselenggarakan pada hari Kamis, karena pada hari kamis ini adalah bertepatan dengan ulang tahun Ibas yang lahir tanggal 24 November 1980. Dan begitupun ketika Ibas melamar Aliya yang notabene puteri kedua Hatta Rajasa tepat pada ulang tahun Aliya, tanggal 26 April yang lalu.

Akibat dari pernikahan langka ini, Hari Kamis, yang masih hari kerja dan hari sekolah bagi anak anak, terpaksa menjadi “libur dadakan”. Tidak ada yang tidak bisa untuk kepentingan Bapak nomor satu di Indonesia ini. Sejumlah sekolah yang berada di jalur Puncak, Bogor, Jawa Barat, pada Kamis tanggal 24 November 2011 pun diliburkan. Keputusan ini diambil lantaran wilayah itu merupakan jalur perlintasan tamu undangan pernikahan Edhie Baskoro Yudhoyono dan Siti Rubi Aliya Rajasa yang digelar di Istana Cipanas. Jalur Puncak juga ditutup bagi kendaraan umum. Pengamanan ekstraketat juga dilakukan di jalur ini. Sejumlah sekolah pun mengaku merasa terganggu dengan keputusan itu. Pihak sekolah mengaku khawatir kendaraan pribadi dan angkutan kota yang biasa antar-jemput pelajar tidak diperbolehkan masuk jalur Puncak-Cipanas. Namun begitu, mereka juga menyayangkan keputusan itu lantaran para siswanya minggu depan akan mengikuti ujian. Penyampaian sejumlah materi pendidikan pun diundur akibat libur ini. (Liputan6.com APY/Vin).

Adakah kompensasi dari liburan ini? karena secara tidak langsung, ini merugikan masyarakat, khususnya anak anak sekolah. Bapak Presiden lebih mementingkan kepentingan pribadi dan keluarganya dibandingkan dengan kepentingan rakyatnya sendiri. Tahukah Bapak Presiden, ada banyak masyarakat Cianjur yang setiap hari pergi dan pulang karena bekerja di Bogor dan Jakarta, demi menafkahi keluarganya? dan hari Kamis tadi, mereka terpaksa memakai jalur yang tidak biasa mereka tempuh, dan lebih jauh dari biasanya, atau mungkin terpaksa meliburkan diri juga.

Pernikahan Putera Presiden Iran, Ahmadinejad

Pernikahan putera presiden Iran ini telah berlangsung beberapa bulan yang lalu, tidak seheboh di Indonesia, bahkan media elektronik maupun massa tidak memberitakannya sama sekali. Inilah kelebihan Iran, menurut saya, dimana para pemimpin dan pejabat nya tidak biasa membawa isteri atau keluarganya pada saat tugas kenegaraan ke luar atau dalam neger. Oleh karena itu kalau ditanya tentang isteri atau anak atau keluarga terdekatnya sang presiden misalnya, maka rakyat Iran sangat sedikit sekali yang mengetahuinya. Bandingkan dengan keadaaan di negeri kita, semuanya diekspos lewat acara entertainment yang hampir tiap hari ditayangkan.

Ali Reza Ahmadinejad, putera kedua dari Presiden Iran, menikah dengan keponakan seorang Syahid (gelar untuk seseorang yang meninggal dunia di jalan Allah, atau kalau di Iran, gelar Syahid diberikan kepada yang gugur di medan peperangan, membela tanah air) Jenderal Mahmoud Kaveh, yang gugur dalam peperangan Iran Irak. Pesta pernikahannya sangat sederhana sekali dan tidak diliput oleh media elektronik atau masa satu pun. Seandainya teman dekat Ali Reza Ahmadinejad, yang bernama Javad Matin, tidak menuliskannya di Blog pribadinya, maka acara pernikahan ini tidak akan terkuak sampai ke Indonesia. Menurut pengakuan Matin, kesederhanaan terasa di mana-mana dalam pesta tersebut. Terbukti dari cara tamu dijamu. Hal ini juga bisa dilihat dari mobil yang digunakan untuk mengantar pengantin dan jumlah tamu undangan yang tidak lebih dari 200 orang. Acara dibuka dengan pengajian yang dilakukan di halaman belakang Beyt atau Istana Kepresidenan. Acara pun dilanjutkan dengan makan malam bersama pengantin pria di ruangan utama bangunan itu dan diakhiri dengan berdoa bersama demi kelanggengan rumah tangga Alireza dan istrinya. Setelah ditelusuri, pernikahan tersebut ternyata hanya menelan biaya 3,5 juta Toman atau setara dengan 35 juta riyal

Dalam mengartikan 3,5 juta Toman, dengan menyebutkan setara dengan 2,9 juta. Padahal di blog aslinya yang berbahasa Inggris ditulis dengan jelas, yaitu sama dengan 3500 dollar. Dan sayang kesalahan ini sudah tersebar kemana mana.

Mata Uang Iran

Mata Uang Republik Islam Iran adalah Riyal, dan Toman adalah superunit dari mata uang resmi Iran. Meskipun Riyal adalah mata uang resmi Iran, tetapi dalam transaksi sehari-hari dan dalam keadaan tidak resmi, kata “Toman” selalu digunakan. Perbedaannya hanya terletak pada jumlah nol dibelakangnya. Sebagai contoh: Kalau kita belanja di Bazar Iran, dan pedagang menyebutkan bahwa harga dagangannya 50 Toman maka itu berarti 500 Riyal. Dan begitupun seterusnya, tinggal ditambah 0 satu dibelakangnya. Memang terkesan Toman lebih murah daripada Riyal, sering sekali saya tertipu dengan penyebutan Toman dan Riyal ini ketika pertama kali datang ke Iran. Oleh karena itu disini, kalau tidak jelas harganya antara Toman dan Riyal, harus ditanya langsung ke pedagangnya harga ini pakai Toman atau Riyal.

Oh ya, nilai “Riyal Iran” ini sama dengan nilai Rupiah Indonesia. Kalau misalnya 5000 rupiah, itu berarti 5000 riyal juga.

Lampiran.

Berikut tulisan asli Javad Matin:

Blogger Javad Matin, a supporter of Iranian President Mahmud Ahmadinejad, has written in his blog about the wedding of Ahmadinejad’s second son, Alireza Ahmadinejad. The event Matin describes is a far cry from the usual lavish wedding ceremonies one sees in the Iranian capital. Excerpts from Matin’s blog post: It was Wednesday evening when my cellphone rang and I was invited to the wedding ceremony of my good friend Alireza, which was taking place the following night.

I knew that during Ghadir Eid [an Islamic holiday] the family had gone to the Beyt [a term often used to refer to the office of Iran’s Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei] and he had been wedded to the niece of martyr Kaveh [Iranian soldiers, Revolutionary Guards, and Basij members who were killed in the war with Iraq are routinely referred to as martyrs]. On Thursday night at 9 p.m. I went to the cultural club of the presidential office. Outside the club, everything was so normal that I thought I had perhaps come to the wrong place. It didn’t seem like the wedding of the son of the president was being held there. I entered the garden and realized that I had to give up my cellphone. A group of people had lined up to say their first prayers. I entered the hall. A number of tables were empty as the guests seated there had gone to pray. Fruit and cakes, a bottle of mineral water, some plates and knives was all that had been laid out on the tables for the guests. I asked about “the doctor.” ["The doctor" is how some of Ahmadinejad’s supporters refer to him because of his Ph.D. in civil engineering and traffic transportation management.] I was told he was praying in the back court.

Because of the lack of space, some of the guests had gone to the back court. I prayed with [senior presidential aide] Mojtaba Samareh Hashemi. Then I went back to the hall. The doctor was sitting at the first table next to the father of the bride. After warm greetings with him and some of the other officials, I sat at one of the tables. The groom entered the hall. He said hello to each of the guests and sat next to the doctor and [the father of the bride] Haj Agha Akbari. The head of the club, Mr. Kheirkhah, told me how the doctor had been attentive about the details of the reception. He told me that he had ordered only one type of food and that he had paid 3.5 million tomans [approximately $3,500] for the cost of the reception. He said the number of male guests was 180. Looking around, I saw very few state officials. I had been to weddings of public servants before and there had not only been lots of lavish spending but also many ministers and state officials in attendance. Maybe I was expecting officials to have lined up there that night with 1,000 guests. A satirical cartoon called “The Population Temptation of Ahmadinejad,” which lampoons the Iranian president’s “subsidy” policies aimed at encouraging an increase in the country’s birth rate.

But what I actually saw was a simple, simple wedding. It was a people’s reception, because the father of the groom was a man of the people. Simplicity reigned everywhere at the party. This was evident in the way the guests were hosted. It could also be seen in the car used to transport the bride and the [wedding] banquet itself, which was simple but delicious and fragrant. The emcee at the reception poked fun at Alireza over the subsidies and the 1 million tomans his future child would receive, which made the doctor smile. The ceremony ended; the doctor and the bride’s father stood in front of the gate to say farewell to the guests. It was interesting to see how the doctor dealt with 7- and 8-year-old kids who were shouting “Uncle! Uncle!” at him. He would give them a hug and treat them kindly. Everyone left and the doctor went to the kitchen to thank those who had been working at the reception. When everyone had gone, the bride and groom got into their car without any additional formalities and went home with their families. I send my congratulations to my dear friend Alireza, the doctor, his respected family, and also the family of the great martyr Mahmoud Kaveh. May they have a good life under the shadow of the Hidden Imam.


Topik Sama

0 comments:

Post a Comment

 
Weddingmu.com - Tips Pernikahan © 2011-2016 InnOnet. All Rights Reserved.