Pernikahan Ketujuh Dalang Manteb "Oye" Sudarsono

0 comments



Pernikahan Ketujuh Dalang Manteb
Untuk kali ketujuh, dalang kondang Ki Manteb Sudarsono kemarin menikah. Bagi dalang yang tenar dengan kalimat "Pancen Oye" itu, menikah lagi adalah keharusan sebagai tuntutan profesi. 

RIKA-ARI WIBATSU, Solo
    
MASJID Fatimah yang berlokasi di Jalan Dr Radjiman, Solo, Jawa Tengah, Kamis (24/11) pagi lalu cukup ramai.  Satu per satu tamu berdatangan dan duduk lesehan di dalam masjid yang dibangun keluarga pengusaha batik Danar Hadi tersebut. 

Melihat dandanan mereka yang datang, tampaknya, para tamu bukan menghadiri pengajian. Sebab, semuanya kompak ber-dress code acara resmi resepsi. 
    
Ya, mereka memang datang untuk menyaksikan pernikahan pasangan dalang Ki Manteb Sudarsono, 63, dan Beni Samsiah, 37, warga Karangmojo, Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar, Jawa Tengah. Tidak tanggung-tanggung, itu adalah pernikahan ketujuh Manteb. Sedangkan untuk Sasa, panggilan akrab Beni Samsiah, itu adalah pernikahan kedua. 
    
Sekitar pukul 09.00, prosesi ijab kabul mulai disiapkan. Sasa yang datang belakangan di lokasi pernikahan itu segera dibimbing ke lantai 2 Masjid Fatimah. Begitu pula Manteb, yang sejak lama menunggu di lantai 1, tempat akad nikah berlangsung.
    
Dipimpin Mahmud, penghulu dari Kantor Urusan Agama (KUA) Serengan, Solo, Manteb menyunting Sasa dengan maskawin emas seberat 50 gram. Hadir di acara akad nikah itu, Samsudin Umar, ayahanda Sasa. 

Acara ijab kabul pun berlangsung cukup lancar. Seolah sama dengan namanya, Manteb cukup manteb dalam menjalankan prosesi ijab kabul yang sakral tersebut. 
    
Tidak ada perasaan grogi atau cemas yang terlihat dari Manteb saat dirinya menunggu prosesi ijab kabul dimulai. Bahkan, sambil menunggu kedatangan mempelai perempuan, Manteb yang mengenakan setelan jas berwarna hitam tersebut terlihat senang.
    
Senyum senantiasa mengembang di wajahnya saat menyalami satu per satu kerabat dan keluarga yang datang untuk memberikan ucapan selamat. Bahkan, saat berbincang dengan wartawan, dalang yang dikenal lantaran kecepatan sabetan wayangnya di atas panggung itu selalu menjawab pertanyaan dengan guyon. 

"Wis ora grogi meneh, wong wis tau (Sudah tidak canggung lagi karena sudah pernah menikah, Red)," kata Manteb sambil tertawa.
    
Manteb menuturkan, pernikahan yang dijalani sekarang bukan sekadar ibadah. Tuntutan profesinya sebagai dalang ruwatlah yang mengharuskannya segera mengakhiri masa menduda. April lalu Manteb resmi bercerai dengan istri keenamnya, Erni. Menurut pakem tinggalan (ketentuan peninggalan) kakeknya yang dijadikannya pegangan, seorang dalang ruwat harus memiliki istri dan tidak boleh beristri lebih dari satu. 
    
"Kalau ada dalang ruwat yang tidak punya istri atau istrinya lebih dari satu, ya monggo. Semua kan nurut bukune dhewe-dhewe. Tapi, buku yang saya pegang mengharuskan dalang ruwat beristri dan tidak boleh lebih dari satu (istri) atau tidak boleh masih joko (perjaka, Red)," ujarnya. 

"Bukan karena kesusu (tergesa-gesa) saya memutuskan untuk menikah lagi. Tapi, memang tuntutan profesi. Saya perlu orang yang betul-betul mengenal profesi saya dan bisa ngopeni (merawat, Red) saya," lanjut Manteb, yang juga bintang iklan obat itu.  
    
Soal pilihan yang jatuh ke Sasa, dalang berjuluk Dalang Setan tersebut punya alasan tersendiri. Menurut dia, Sasa merupakan teman istri Manteb, Sri Suwarni. Selama pertemanan itulah, Manteb mengetahui kepribadian Sasa. Perempuan 37 tahun tersebut menjawab setuju dinikahi Manteb setelah lamaran kedua. 
    
"Dia yang membantu ngopeni istri saya yang waktu itu sakit. Mencarikan rumah sakit dan sebagainya. Memang tidak seperti kisah cinta anak muda sekarang. Wong wis tuwa, sing penting pas (Sudah tua, yang penting tepat, Red). Saya tanya, aku dampingono, iso ora, dia jawab insya Allah bisa. Ya sudah, akhirnya menikah," ungkap Manteb.
    
Manteb juga menceritakan sebuah romantika hidup antara dirinya dan Sasa. Tiga bulan setelah Sri Suwarni (istri kelimanya) meninggal, Manteb mengaku sebenarnya pernah melamar Sasa untuk dijadikan istri. Tetapi, janda satu anak tersebut tak memberikan jawaban. Karena itu pula, Manteb kemudian menikahi Erni. 
    
Namun, biduk rumah tangganya dengan Erni kandas. Mereka kemudian berpisah secara baik-baik. Setelah itu, Manteb langsung mendatangi Sasa lagi. Dia kembali melamar perempuan tersebut. Lalu, lamaran kedua itu diterima. 

"Sempat saya tanya, mengapa dulu tidak menerima lamaran saya. Dia malah menyalahkan saya yang kesusu menikah dengan perempuan lain," papar dia. "Padahal, dia juga sebenarnya mau. Tapi, hanya merasa tak enak karena istri saya (Sri Suwarni) yang juga temannya meninggal baru seratus hari. Ibarate, kuburane wae durung garing (Ibaratnya, kuburannya saja belum kering, Red). Tapi, aslinya dia nggak menolak," lanjut Manteb. 
    
Berbeda dengan Manteb, Sasa cenderung diam. Sesudah ijab kabul, dia tampak sibuk menerima ucapan selamat dan bersalaman dengan para tamu. Meski begitu, dari wajah perempuan yang beruntung menjadi istri dalang kondang itu tampak rona bahagia. 
    
Banyak pihak yang mendoakan pernikahan itu menjadi pernikahan terakhir bagi keduanya. Termasuk, Samsudin Umar. Meski pernah menikah enam kali, Samsudin merelakan anak sulungnya tersebut dinikahi Manteb setelah melihat kesungguhan dan niat baik dalang itu meminang putrinya. 

"Saya hanya berharap, itu pernikahan terakhir bagi mereka. Pernikahan yang memberi berkah dunia dan akhirat," harap Samsudin.
    
Hal senada diungkapkan oleh rekan sekerja Manteb, dalang Anom Suroto. Anom yang datang dalam resepsi pernikahan sederhana itu mengharapkan Sasa menjadi pelabuhan hati Manteb yang terakhir. 

Sementara itu, pengacara Muhammad Taufik yang menjadi saksi pernikahan tersebut juga menyatakan bersedia menjadi saksi setelah Manteb berjanji bahwa kali ini merupakan pernikahan terakhir. "Itu harus menjadi the last wedding," pintanya.
    
Sayang, tidak ada waktu khusus bagi pasangan tersebut untuk berbulan madu. Sebab sorenya, Manteb sudah harus terbang ke Jakarta lantaran hari ini ada pentas di TMII. Dilanjutkan dengan manggung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. 

"Ora enek bulan madu, madune wis entek (Tidak ada bulan madu, madunya sudah habis, Red). Setelah ini, ada pekerjaan. Tapi, istri saya akan saya bawa juga," ujar Manteb, menjawab pertanyaan wartawan.
    
Tidak banyak tamu yang diundang dalam acara tersebut. Selain keluarga, tamu yang memberikan doa restu adalah rekan kerja Manteb. Termasuk, para niyaga dan sinden yang setia mendampingi Manteb manggung. Enam anak Manteb dan 14 cucunya terlihat mendukung pernikahan ketujuh ayah dan kakek mereka itu.
    
Lantas, mengapa memilih Masjid Fatimah sebagai tempat ijab kabul? Manteb mengaku sengaja memilih masjid sebagai lokasi ijab kabul. Pemilihan masjid itu, menurut dia, tak lepas dari niatnya untuk bertobat. Dia berharap, pernikahan dengan Sasa tersebut menjadi pernikahan terakhirnya. 
    
"Menikah di Taman Mini (Jakarta) sudah, di rumah juga sudah. Kali ini saya milih menikah di masjid. Ngiras pantes tak nggo mertobat (Sekaligus keinginan untuk bertobat, Red). Mudah-mudahan ini menjadi yang terakhir. Aku ora isin. Iki lelakon sing kudu tak lakoni. Anak putuku nyengkuyung kabeh (Saya tidak malu. Ini merupakan garis hidup yang harus saya jalani. Anak cucu saya, semua mendukung)," tambahnya.



Topik Sama

0 comments:

Post a Comment

 
Weddingmu.com - Tips Pernikahan © 2011-2016 InnOnet. All Rights Reserved.