Ketahuilah Penyebab dan Risiko Telat Menikah

0 comments




Kisaran usia 28-35 masih disebut ideal bagi pria untuk menikah. Usia itu biasanya mapan, minimal atau memiliki pekerjaan tetap. Pengalaman menjalin hubungan sebelumnya menjadikan pria lebih dewasa sehingga mengejar formalitas atau perkawinan lebih bertanggung jawab.

“Pria usia 25 sudah menikah, kelihatannya seperti remaja punya anak. Usia tersebut masih dalam kategori remaja akhir menuju dewasa awal,” jelas psikolog Yulia Wahyu Ningrum. Sedangkan telat menikah, berada pada usia 35 ke atas bahkan menjelang kepala empat.

Risiko besar tentu berada di pola tumbuh kembang anak. Jika memiliki anak pada usia menjelang 40, euforia menjaga anak berkurang. Padahal pola asuh terbaik yaitu terlibat langsung. Usia 40-an kurang energik sehingga tidak mampu menyeimbangkan aktivitas anak. Terlebih anak dalam masa-masa emas pertumbuhan. Terlalu tua membuat Anda tidak bisa ikut bermain, menggendong, bermain kejar-kejaran, dan lainnya.

Risiko anak down syndrome pun lebih besar karena kualitas sperma menurun. Terlebih, jika pasangan Anda juga menikah pada usia tua. Risiko melahirkan anak down syndrome berkali-kali lipat.

Ditemui di tempat praktiknya, Yulia menambahkan bahwa pria dewasa nan mapan cenderung memilih calon istri cantik. Itu tak masalah asal calonnya juga sama-sama dewasa. “Wanita lebih dulu dewasa ketimbang pria,” ujarnya.

Pastikan wanita yang dipilih pengertian. Bukan harta yang ia incar. Jangan sampai sebelum menikah Anda memiliki mobil namun ke mana-mana menggunakan motor setelah menikah. Pernikahan juga tak perlu mewah, yang penting sah.

Banyak pria sukses setelah menikah. Ada istri yang mengatur pola keuangan, menyiapkan kebutuhan sebelum dan sesudah kerja, mengurus rumah, dan lain-lain. Pernikahan membuat kebiasaan pria yang hobi membeli barang-barang tak perlu berkurang. Sadar bahwa uang harus disimpan guna kebutuhan keluarga.

“Tujuan menikah ingin apa? Kalau memiliki keturunan, maka dipikirkan baik-baik. Lagipula, telat menikah juga berpengaruh ke jaminan masa depan anak,” tambah Yulia. Jika menikah karena ingin mendapatkan keturunan, carilah calon istri yang lebih muda. Hamil usia muda tak berisiko.

Adapun banyak alasan yang mendasari pria menunda pernikahan. Entah pernah disakiti pasangan sebelumnya, melihat teman atau keluarga yang tidak bahagia menjalani rumah tangga, masalah perbedaan budaya, hingga penyimpangan seks.

“Beberapa klien saya telat menikah karena trauma, padahal sudah mapan dan dewasa. Memutuskan menikah karena merasa nyaman sehingga tak masalah karena orientasinya bukan untuk memiliki anak,” imbuhnya, Minggu (7/1) lalu di Biro Psikologi Mata v Hati Samarinda. “Punya penyimpangan seks, menikah hanya untuk kedok dan mau tak mau karena paksaan orangtua biasanya,” tambah Yulia.

Terlalu nyaman dengan pekerjaan turut menyumbang alasan telat menikah. Tidak berpikir untuk menikah dan membagi penghasilan bersama. Pikiran-pikiran kaku dan awam, menikah akan terkekang. Menikah tidak bebas dan lain sebagainya.

Ada pula perbedaan budaya dengan pasangan. Aturan ini itu membuat seseorang memilih tidak menikah daripada harus menikah dengan orang yang tidak dicintai. “Sebagian besar karena trauma,” jelasnya.


Topik Sama

0 comments:

Post a Comment

 
Weddingmu.com - Tips Pernikahan © 2011-2016 InnOnet. All Rights Reserved.