Hian Tjen, Produksi Sampai 30 Baju Pengantin Dalam Sebulan

0 comments




Laki-laki kelahiran Pemangkat, Kalimantan Barat ini namanya semakin diperhitungkan di industri wedding Tanah Air. Lulus dari Esmod di tahun 2003, ia melanjutkan bekerja di beberapa perusahaan garmen. Cukup 4 tahun bekerja di garmen, ia mulai sering menerima pesanan membuat evening gown. Dari situ semuanya mengalir secara alami hingga ia mulai rutin membuat wedding gown, membuka butik dengan namanya di tahun 2008 – sampai sekarang.

Fokus dengan memproduksi gaun-gaun pernikahan bergaya internasional (dengan dominasi klien yang merupakan warga Tionghoa), Hian Tjen yang akan menggelar show tunggalnya besok (19 Agustus 2015) itu mengaku kliennya sampai berasal dari luar negeri. “Mereka menemukan saya dari media sosial sepertinya. Dari klien di Jakarta yang menggunakan gaun saya,” ceritanya sambil menambahkan bahwa pernikahan-pernikahan di Jakarta mampu menjadi pembuat trend di kawasan Asia.

“Di Indonesia, mau menikah dengan konsep apapun bisa diwujudkan. Makanya, orang-orang Singapura juga tertarik. Bahkan ada klien saya dari Singapura, yang selain memesan gaun ke saya, dia juga memboyong tim dekorasi dari Jakarta untuk pernikahannya di sana,” tambah Hian Tjen lagi.

Menurut desainer yang gemar memberikan detail floral di gaun-gaun pernikahan rancangannya itu, kota-kota besar seperti Surabaya, Medan, Bali, Makassar, dan pastinya Jakarta cukup membuktikan bahwa industri wedding di Indonesia sangat sehat. Dengan biaya produksi yang sangat murah, konsumen menjadi sangat antusias. “Tapi, mereka harus tahu dari awal gaun seperti apa yang mereka inginkan. Jadi, proses konsultasinya nggak kebanyakan. Apalagi, tiap konsultasi keinginannya berubah,” cerita Hian Tjen.

Desainer yang mengharuskan agar kliennya sudah melakukan pemesanan 4 sampai 8 bulan sebelum hari H (demi perhitungan hari-hari baik untuk menikah, yang masih sangat dipatuhi oleh klien keturunan Tionghoa) ini mengaku, momen konsultasi dengan klien bisa jadi kesempatan untuk mendidik mereka tentang desain yang bagus, dan desain apa yang cocok untuk postur tubuh mereka. “Bisa saja di awal dia nggak suka dengan desain yang kita kasih, tapi biasanya saya akan mencobakan beberapa fitting dan cutting yang berbeda sampai mereka suka.”

Pertama, Hian Tjen biasanya akan menawarkan 4 hingga 5 desain. Dikecilkan menjadi 2. Lalu mendiskusikan siluet yang diinginkan oleh si calon pengantin, mencari tahu referensi-referensi yang disukainya, sampai menemukan titik tengah yang bisa disepakati. “Kita nggak bisa selalu menuruti apa yang dimau klien. Kalau hasilnya nggak bagus ngapain, meski mereka suka. Karena gaun pengantin yang ideal itu disukai oleh yang memakainya, tapi juga bagus dilihat semua orang,” papar Hian Tjen lagi.

Menjadikan Dior (karena siluet), Elie Saab (untuk detail) dan Ulyana Sergeenko (karena gayanya yang sophisticated) sebagai desainer favoritnya, Hian Tjen mengakui siluet ball gown masih sangat populer. “ Bahkan sampai tahun depan. Apapun bahannya, detailnya, siluet ini masih cukup disukai,”cerita Hian Tjen yang setiap akhir pekan pasti selalu melakukan fitting dengan calon pengantin yang memakai rancangannya. He is so busy. Selain menyiapkan show tunggal, September sepertinya akan jadi bulan yang super padat. “Ada pesanan 30 gaun. Basically, sehari satu,” jelasnya.

Hal itu dikarenakan bulan September hingga November selalu jadi puncak dalam kalender pernikahan. Orang-orang Indonesia banyak menikah di bulan-bulan itu. “Bulan-bulan yang dihindari itu biasanya April (khusus Tionghoa), Juli saat banyak liburan, dan Desember. Sisanya selalu penuh,” jelas Hian Tjen yang selalu hadir saat pemakaian gaun pengantin rancangannya. “Karena memakainya harus benar. Biasanya gaun pengantin kan sangat ketat. Kalau salah pakai bahaya,” tambahnya.

Hian Tjen mengaku ia ingin menghadirkan rasa yang baru pada rancangannya. “Sepertinya gaun pengantin yang beredar di sini begitu-begitu saja. Referensinya selalu sama. Bosan jadinya. Siapa yang mau bajunya jadi pasaran. Karena orang lain juga ternyata membuat yang mirip-mirip.” Soal rasa baru ini juga ia tekankan untuk koleksi “Chateau Fleur” yang akan ia paparkan besok.

Melewati setahun persiapan, lalu benar-benar sibuk selama 6 bulan terakhir, Hian Tjen mengaku ia senang, sekaligus deg-degan mempersiapkan show tunggal pertamanya itu. “Yang datang senior-senior saya, orang penting, jadi tanggung jawab saya besar sekali,” ungkapnya. “Chateau Fleur”, akan berkonsep couture dengan menghadirkkan 59 looks, yang mempertemukan falsafahthe bad and the good. “Keseimbangan antara nilai baik dan nilai yang buruk. Keseimbangan antara alam dan kehidupan,” tutupnya.


Topik Sama

0 comments:

Post a Comment

 
Weddingmu.com - Tips Pernikahan © 2011-2016 InnOnet. All Rights Reserved.