Kalau Suami Masih Suka Keluyuran

0 comments




Belakangan, Lita sebal kepada Romi, pria yang baru dinikahinya tiga bulan lalu. Pasalnya, Romi sering hangout bersama teman-teman kantor sepulang kerja. Bukan sekali dua kali pula Romi pulang menjelang tengah malam. Lita sebenarnya tahu Romi hobi nongkrong. Namun, ia berharap Romi lebih banyak meluangkan waktu bersamanya setelah menikah.

Menurut Tara de Thouars, BA, MPsi, pernikahan merupakan fase hidup yang sangat penting dan tidak mudah. Pasalnya, menjalankan pernikahan membutuhkan komitmen, toleransi, keikhlasan, serta pengorbanan. Apalagi dalam pernikahan, terdapat tanggung jawab baru, kewajiban baru, serta pengalaman dan harapan baru dalam hidup.

Memutuskan menikah juga memerlukan kesiapan, keyakinan dan keinginan untuk menjalankannya. Menikah berarti bertanggung jawab kepada pasangan, anak, dan keluarga besar. Sebut saja soal keuangan, kasih sayang, kesetiaan, dan kepedulian.

“Jadi, Anda tidak hanya memikirkan diri sendiri,” lanjut psikolog dari Lighthouse ini.

Harus seimbang
Meski demikian, pernikahan tak lantas memenjarakan seseorang. Tara menegaskan, seseorang masih bisa melakukan kesenangan, menjalankan hobi, atau bergaul dengan teman-teman meski ia sudah menikah. “Bukan pula harus menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya ketika saat masihsingle.”

Namun, hal yang terpenting adalah menyeimbangkan kebutuhan dan keinginan pribadi dengan kebutuhan dan tanggung jawab keluarga.

“Bagaimana pun, kehidupan sosial sangat diperlukan dan memiliki banyak manfaat,” ujarnya.

Nah, cara terbaik agar dapat menjalankan kehidupan sosial sekaligus rumah tangga dengan baik adalah membagi waktu (time management) dengan efektif. Jadi, Anda masih bisa memiliki waktu untuk keluarga dan dapat meluangkan waktu bersama teman-teman. “Ingat juga bahwa waktu yang ada telah terbagi untuk bekerja.”

Selanjutnya, tentukan prioritas dengan tepat, sehingga Anda memiliki acuan mana yang harus didahulukan. Contoh, berencana pergi dengan teman-teman, namun dibatalkan karena mendadak ada acara keluarga. Anda juga mendahulukan pengeluaran rumah tangga ketimbang berhura-hura dengan teman.

Sebaliknya, istri yang menginginkan pergi dengan teman-teman harus memastikan segala kebutuhan anaknya terpenuhi.

“Dahulukan keperluan yang lebih penting dan urgen supaya Anda dapat menjalankan tanggung jawab rumah tangga dengan baik,” tutur Tara.

Samakan persepsi
Apabila kegiatan bersosialisasi termasuk penting, bicarakan dengan pasangan, agar ia memahami kebutuhan Anda. Buatlah komitmen atau kesepakatan agar keinginan bersosialisasi bisa terpenuhi, namun juga tidak menelantarkan keluarga. Misalnya, “Jumat boleh berkumpul dengan teman-teman, namun akhir pekan adalah waktu untuk keluarga.”

Meski tak wajib, komitmen di awal sebelum pernikahan bisa dilakukan. “Dengan memutuskan menikah, seseorang sudah lebih mawas diri dan siap membagi waktu dengan keluarga. Terkecuali apabila kebiasaan berkumpul-kumpul sudah nampak dari sebelum menikah dan dirasa akan mengganggu kehidupan rumah tangga,” kata Tara.

Lalu, apa pun yang ingin dilakukan, tetaplah menyadari peran dan tanggung jawab. Bagaimanapun, situasi tak sama lagi setelah menikah. Jadi, menyadari peran dan tanggung jawab akan membuat seseorang lebih mawas diri dan membuat keputusan yang paling bijak serta tepat. “Tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk keluarga.”

Terakhir, pahami bahwa segala sesuatu yang berlebihan tidak akan baik dari sisi apa pun. “Berlebihan menghabiskan waktu di luar rumah dengan teman-teman tidak baik, namun tidak pernah bertemu dengan teman pun tidak baik. Yang terpenting menyeimbangkan dua-duanya sehingga semua kebutuhan terpenuhi,” pungkas Tara.


Topik Sama

0 comments:

Post a Comment

 
Weddingmu.com - Tips Pernikahan © 2011-2016 InnOnet. All Rights Reserved.