Unik, Pekan Pernikahan Shanghai, Surga Bagi Pemburu Jodoh

0 comments




Sebuah taman di Shanghai, Tiongkok, selalu ramai oleh orangtua. Mereka sibuk memajang kertas di tiap sudut. Ada yang ditempel di dinding, batang pohon, hingga disematkan pada seutas tali.

Masing-masing kertas berisi pesan promosi. Namun yang diiklankan dan dijajakan bukanlah barang, melainkan anak mereka sendiri. Mereka menuliskan data-data diri yang penting di kertas itu.

Yang biasanya tercantum: tinggi badan, usia, pendapatan, pendidikan, shio atau zodiak, serta apakah sudah memiliki mobil dan tempat tinggal. Data itu dipajang tanpa sepengetahuan yang bersangkutan.

Tujuannya: mencari jodoh. Di taman itu, orang tua sibuk berkeliling sambil berbincang dengan orangtua lain. Dengan begitu, bisa ditentukan apakah masing-masing anak akan cocok satu sama lain.

Perkumpulan itu dikenal sebagai Pekan Pernikahan Shanghai. Prinsipnya seperti hubungan lewat dunia maya, namun diatur agar tidak seperti kencan buta atau perjodohan konvensional.

Meskipun hak untuk memilih sendiri pasangan sudah ada sejak lama di Tiongkok, dilansir dari Amusing Planet, orangtua tetap merasa harus turun tangan untuk mengatur calon pasangan anaknya.

Sebab, menurut mereka, anak-anak terlalu sibuk dan tidak aktif mencari pasangan.

Langkah pertama, orangtua masing-masing anak saling berhubungan untuk menemukan kecocokan. Jika sudah sama-sama setuju, mereka akan membiarkan anaknya untuk melangkah lebih jauh.

Bagi pemuda Tiongkok, ide itu memang memalukan. Namun untuk para orangtua, itu merupakan satu-satunya cara melestarikan gaya kencan tradisional di era modern. Mereka bahagia melakukannya.

Pola pikir warga Tionghoa tentang pernikahan sudah berubah selama bertahun-tahun. Kini generasi muda di negera yang memiliki tembok terpanjang di dunia itu lebih memilih karier.

Tidak Normal

Usia sudah menginjak kepala tiga, belum diburu hasrat menikah. Wanita dengan pendidikan tinggi juga lebih pemilih dibandingkan generasi masa lalu yang tidak menempatkan karier sebagai prioritas.

Perubahan ideologi pernikahan itu membuat wanita memiliki posisi yang lebih tinggi dari kekuasaan laki-laki yang mendominasi. Apalagi, seks rasio di Tiongkok dalam tiga dekade terakhir mulai “tak normal”.

Sebuah studi memprediksi, tahun 2020 mendatang, Negeri Tirai Bambu akan memiliki sekitar 24 juta orang yang belum menikah dan tidak dapat menemukan istri. Angka itu didapat setelah menggabungkan populasi wanita Tionghoa yang berada di Taiwan dan Korea Selatan.

Pekan Pernikahan Shanghai hanya satu dari banyaknya pekan pernikahan di Tiongkok. Meskipun kesuksesannya terbilang kecil, para orangtua tetap datang di bulan dan tahun berikutnya.


Topik Sama

0 comments:

Post a Comment

 
Weddingmu.com - Tips Pernikahan © 2011-2016 InnOnet. All Rights Reserved.