TPS Lereng Merapi Bernuansa Pesta Pernikahan

0 comments




Petugas pemungutan suara (PPS) melakukan berbagai cara untuk menarik minat warga agar tidak “golput” pada Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg) 2014 ini. Mulai dari membuat tempat pemungutan suara (TPS) yang unik dan kreatif, sampai memberi hadiah bagi setiap pemilih.

Seperti yang dilakukan oleh PPS di TPS 13 Dusun Grogolan, Desa Dukun, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, yang memberi bebungah (hadiah) berupa bibit tanaman kepada warga yang telah mencoblos di bilik suara.

“Maksud adanya bebungah atau hadiah ini agar warga semakin semangat untuk menyalurkan hak pilihnya di TPS,” ujar Ketua KPPS TPS 13, Dusun Grogolan, Dimas Purbo, Rabu (9/4/2014).

Dipilihnya bibit tanaman, karena menurut Dimas, mayoritas warga lereng Gunung Merapi ini bermata pencaharian sebagai petani. Selain itu, pemberian bibit tanaman juga mengandung pesan agar lereng Merapi kembali hijau pasca-bencana erupsi dan banjir lahar dingin beberapa tahun lalu.

“Kami harapkan bibit tanaman itu bisa ditanam di lahan atau pekarangan rumah warga masing-masing. Sehingga sedikit banyak bisa mengembalikan wilayah lereng Merapi menjadi hijau seperti sedia kala sebelum erupsi dan lahar dingin,” katanya.

Selain iming-iming hadiah bibit tanaman, TPS pun dibuat unik lain dari biasanya. TPS dibuat ala hajatan pengantin Jawa. Tenda penuh hiasan daun kelapa (janur). Semua petugas pun berpakaian adat Jawa berupa beskap, kain batik, blangkon, hingga aksesori senjata keris.

Layaknya sebuah hajatan perkawinan, di tengah-tengah TPS tersebut juga disediakan makanan dan minuman yang diletakkan di atas meja. Warga yang sedang menunggu giliran mencoblos pun tidak akan jenuh karena alunan musik gamelan juga diperdengarkan melalui alat pengeras suara.

Selain itu, di luar tenda juga terdapat hiasan berupa aneka peralatan pertanian yang tidak asing bagi masyarakat lereng Merapi , seperti cangkul, sabit, benih padi, benih kelapa dan caping bambu.

Nuansa Jawa juga sangat kental di TPS itu karena semua arah petunjuk menggunakan bahasa Jawa. Misalnya, "Sugeng Rawuh" (Selamat Datang), "Mlebet" (masuk), "Pangenan Nenggo" (tempat tunggu), "Pangenan Nyoblos" (tempat mencoblos), "Kotak Suanten" (kotak suara), "Medhal" (papan penunjuk keluar) dan "Mangsi" (Tinta).

Bak prosesi pernikahan khas adat Jawa, sebelum tahapan pemungutan suara dimulai, PPS menggelar ritual memecah kendi yang terbuat dari tanah liat. Kendi berisi beras kuning, bunga mawar, uang receh dan tulisan "Stop Politik Uang", "Stop Golput" dan "Pileg Bersih".

“Ritual ini mengandung makna bahwa warga lereng Gunung Merapi ingin bisa lepas dari bebendhu atau mara bahaya dan segala ancaman. Adapun beras kuning merupakan lambang kemakmuran,” kata Dimas.

Dimas mengaku, untuk membuat konsep TPS itu, pihaknya rela nombok. Karena, anggaran yang diberikan KPU Kabupaten Magelang bagi masing-masing TPS untuk membuat TPS hanya Rp 700.000. Sedangkan untuk menggelar pileg dengan konsep tersebut, panitia warga harus mengeluarkan dana hingga Rp 2 juta.

“Kami rela nombok, ada swadaya dari warga juga untuk membuat konsep TPS seperti ini, agar angka kehadiran masyarakat dan kesadaran untuk mencoblos di pileg ini tinggi,” ujarnya.


Topik Sama

0 comments:

Post a Comment

 
Weddingmu.com - Tips Pernikahan © 2011-2016 InnOnet. All Rights Reserved.