Midodareni, Masa Tenang Sebelum Pernikahan

0 comments




Bagi Anda dan pasangan yang memilih untuk menjalankan pernikahan dengan adat Jawa, ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui sebelumnya baik upacara pra maupun pasca pernikahan. Dan kali ini, kami akan membahas mengenai masa tenang sebelum pernikahan atau yang biasa disebut dengan Midodareni.

Malam Midodoreni merupakan malam Tirakatan, di mana tidak ada gamelan yang dibunyikan, tidak ada tarian, dan tidak ada atraksi. Ini adalah malam terakhir bagi kedua calon mempelai sebagai bujang dan dara sebelum melangsungkan pernikahan ke esokan harinya.

Di saat malam Midodareni, pengantin perempuan akan tinggal di kamarnya mulai dari jam enam sore sampai tengah malam dengan ditemani oleh kerabat- kerabat perempuannya. Mereka akan bercakap-cakap dan memberikan nasehat kepada pengantin perempuan. Saat ini juga menjadi saat terakhir bagi sang orang tua untuk memberinya makan, karena mulai hari esok ia akan menjadi tanggung jawab seutuhnya sang suami.

Midodareni terbagi dalam dua tahap upacara di kediaman calon mempelai putri. Tahap pertama adalah peningsetan yang berasal dari kata 'singset' alias langsing, memiliki arti untuk mempersatukan. Ini juga mengartikan kedua keluarga mempelai setuju untuk kedua anak mereka disatukan dalam tali pernikahan.

Kemudian, keluarga pengantin pria datang berkunjung ke kediaman keluarga pengantin perempuan dengan membawa berbagai macam serah-serahan. Soal isinya, serah-serahan kini telah mengalami perubahan demi alasan kepraktisan.

Lanjut ke tahap kedua. Selama acara Midodareni berlangsung, calon mempelai pria dilarang masuk menemui keluarga calon mempelai perempuan. Ia hanya boleh duduk di depan rumah ditemani dengan beberapa kerabat atau anggota keluarganya saja. Dan dalam kurun waktu tersebut, ia hanya boleh diberi segelas air dan tidak diperkenankan untuk merokok. Sang calon mempelai pria baru boleh makan setelah tengah malam. Mungkin terdengar agak sedikit kejam, tapi hal ini justru dimaksudkan sebagai pembelajaran bahwa ia harus bisa menahan lapar dan godaan.

Sebelum keluarganya resmi pulang, kedua orang tua calon mempelai pria akan menitipkan anak mereka kepada keluarga calon mempelai perempuan. Inilah malam di mana ia tidak akan pulang ke rumah.

Dan setelah mereka keluar dari rumah dan pulang, calon mempelai pria baru diizinkan masuk ke rumah tapi tidak untuk masuk ke kamar pengantin. Biasanya, hal ini dilakukan untuk alasan keamanan dan kepraktisan, mengingat bahwa besok paginya kedua calon pengantin akan didandani dan dipersiapkan untuk acara Ijab berikut dengan acara-acara lainnya.

Sementara itu, para panisepuh, keluarga, serta kerabat bisa melakukan 'tuguran' yang dimaksudkan untuk mendapat rahmat Tuhan agar seluruh rangkaian upacara berjalan lancar dan selamat.



Topik Sama

0 comments:

Post a Comment

 
Weddingmu.com - Tips Pernikahan © 2011-2016 InnOnet. All Rights Reserved.