3 Kiat Membangun Rasa Percaya Diri Usai Resmi Bercerai

0 comments




Bercerai? Tidak ada pasangan yang rela mengakhiri pernikahan yang diawali dengan landasan cinta dan harapan. Namun, kenyataannya 40 sampai 50 persen komitmen pernikahan berakhir dengan perceraian!

Proses perceraian umumnya berlalu dengan gejolak dan perubahan besar dalam hidup. Beberapa di antaranya adalah tekanan menjadi orang tua tunggal bagi anak-anak, kesulitan mencari tempat tinggal baru, peralihan kondisi finansial, dan menjaga emosi serta konflik psikis anak menghadapi transisi yang menyakitkan. Segala hal yang harus Anda hadapi tersebut bisa jadi membuat Anda merasa terisolasi, tertekan, dan depresi.

Jika sekarang Anda tengah menjalani rumit dan beratnya proses perceraian, lakukanlah tiga kiat bijak berikut agar perpisahan tidak berakhir bencana, baik untuk Anda, mantan suami, dan terutama pada anak.

Jangan menutup diri

Perceraian membuat Anda merasa kehilangan dan kesepian, bahkan juga membuat Anda terpuruk dan bisa mengakibatkan depresi. Namun, Anda tidak bisa menghindar, tidak ada proses perceraian yang berlangsung menyenangkan. Perceraian akan selalu menyisakan kegetiran, tetapi Anda bisa mengatur berapa lama masa suram tersebut akan berlangsung. Tanamkan dalam pikiran bahwa waktu akan bergulir indah di masa mendatang.

Agar luka hati cepat pulih, Anda bisa mencoba dengan menghabiskan waktu bersama sahabat dan keluarga yang memahami kondisi Anda tersebut. Dukungan positif dari orang-orang terdekat akan membuat Anda tidak merasa sendirian.

Jika memiliki teman yang pernah mengalami perceraian, cobalah berbagi cerita dengan mereka. Cara ini dapat membangkitkan semangat Anda untuk melanjutkan hidup, membuka hati, dan optimis bahwa cobaan ini bersifat sementara.

Jalani dengan optimis

Perceraian, secara tidak langsung akan mempengaruhi kondis psikis dan juga kepercayaan diri. Dengan demikian, bukan tidak mungkin Anda jadi malas memperhatikan kebutuhan pribadi dan merawat diri sendiri. Tidak sedikit wanita yang bercerai, karena selalu merasa sedih jadi mengabaikan kepentingan anak. Pastikan hal tersebut tidak terjadi pada Anda, apalagi sampai tidak peduli pada sang buah hati. Ingat, anak adalah pihak yang paling dirugikan dari sebuah perceraian.

Sikapi perubahan besar dalam hidup Anda ini secara arif dan pikiran yang terbuka. Anda dapat mengawalinya dengan hal yang sederhana, tapi berdampak positif, misalnya, berlibur dengan anak-anak atau sahabat, mengubah penampilan dan gaya rambut, berkumpul dengan keluarga, mengatur rencana harian untuk kehidupan yang akan Anda lalui di hari esok. Intinya, Anda wajib menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas yang bisa menghalau rasa sedih dan kecewa dalam hati.

Tengok permasalahan dari sudut pandang yang berbeda

Perceraian memang menyakitkan untuk semua pihak, tak hanya Anda, mantan suami, dan anak, anggota keluarga yang lain juga merasakan kepedihan yang sama. Kondisi ini tak ayal kerap menimbulkan pertanyaan, apa yang salah dan mengapa pernikahan ini tidak berhasil? Umumnya pasangan yang bercerai cenderung menyalahkan diri sendiri, sampai akhirnya mencapai satu titik di mana mereka merasa lelah, lalu beralih menyalahkan pihak lain.

Menyalahkan orang lain memang lebih mudah dibandingkan mengakui kesalahan sendiri. Namun, sampai kapan Anda terus melakukan penyangkalan? Maka dari itu, latihlah diri secara perlahan untuk tidak menyalahkan siapapun, terutama diri sendiri. Lapangkah hati untuk menerima perceraian sebagai setapak kehidupan yang harus Anda lalui, demi arah serta tujuan hidup yang lebih baik di masa depan.

Memiliki keikhlasan yang demikian memang tidak gampang, tetapi jika Anda tidak mulai melatih diri dari sekarang, lalu kapan? Sebab tidak akan pernah ada waktu yang tepat, kecuali Anda menentukannya sendiri!


Topik Sama

0 comments:

Post a Comment

 
Weddingmu.com - Tips Pernikahan © 2011-2016 InnOnet. All Rights Reserved.