Ribuan Pasang Pengantin Korsel Ikuti Pernikahan Massal

0 comments



Ribuan Pasang Pengantin Korsel Ikuti Pernikahan Massal

Sebanyak 3.500 pasangan pengantin kemarin melangsungkan pernikahan massal di stadion olahraga Gapyeong, Korea Selatan (Korsel). Tidak hanya itu, pada saat bersamaan, lebih dari 24.000 orang–yang dikenal dengan Moonies–di berbagai negara juga melangsungkan pernikahan melalui jaringan video.

Pernikahan massal itu tidak hanya diikuti warga Korsel. Banyak warga dari berbagai negara lain ikut menikah setelah bertemu hanya beberapa hari dengan pasangannya. Upacara pernikahan itu dipimpin langsung Hak Ja-han, janda Sun Myungmoon, pendiri Gereja Unifikasi yang meninggal pada September lalu.

Uniknya, sebanyak 400 orang dari 3.500 orang yang melangsungkan pernikahan di Gapyeong ternyata dipilihkan pasangannya oleh Hak Ja-han. Aksi perjodohan tersebut sebelumnya juga dilakukan oleh mendiang suaminya. Pernikahan dengan perjodohan itu dikenal sebagai yang terbesar di dunia. ”Saya sangat gugup,” ujar Jin Davidson, 21, warga Amerika Serikat kepada AFP.

Dia merupakan salah satu orang yang menikah setelah dicarikan pasangan oleh Hak. ”Tiba-tiba pasangan perempuan hadir di depan saya, dan saya mengatakan oke,” ungkapnya. Davidson mengaku, baru pertama kali bertemu dengan pasangannya, Kotona Shimizu, 21, saat pernikahan itu.

Dia menyatakan, sangat sulit berkomunikasi dengan pasangannya yang berasal dari Jepang. ”Saya tak bisa berbahasa Jepang. Dia hanya dapat berbicara bahasa Inggris, tapi tidak lancar. Tapi, kita melihat itu sebagai tantangan yang menarik dan bukti mengenai keimanan kita,” imbuhnya.

Mereka mau dijodohkan setelah diberi pengertian bahwa romantisme cinta tanpa ikatan pernikahan itu justru mengajarkan pelecehan seksual dan pemilihan pasangan yang tidak tepat. Tak ayal, banyak pasangan yang menikah, meski hanya bertemu beberapa jam sebelum penikahan. Pernikahan massal itu dianggap mengajarkan pemahaman lintas budaya dan pernikahan lintas negara.

Namun, ada beberapa pasangan yang memang mencari cinta sejatinya sendiri. Lisa dari Trinidad and Tobago, misalnya, pertama bertemu dengan pasangannya, Hubert dari Polandia, melalui media Skype. Sebelumnya, pada Maret 2012, sebanyak 2.000 pasangan menikah massal. Pernikahan massal itu dimulai sejak awal 1960-an.

Dari tahun ke tahun jumlahnya semakin banyak. Bahkan, pada 1997 sebanyak 30.000 pasangan menikah massal di Washington dan dua tahun kemudian 21.000 pasangan menikah di Stadion Olimpiade di Seoul.


Topik Sama

0 comments:

Post a Comment

 
Weddingmu.com - Tips Pernikahan © 2011-2016 InnOnet. All Rights Reserved.